Selasa, 03 Juli 2012

Motivasi Belajar Siswa pada Pelajaran Fisika



Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif/daya menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu. Dalam hal belajar motivasi diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan serangkaian kegiatan belajar. (Uzer Usman, 2008)
Pada dasarnya, motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. (Santrock, 2006)
Pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan SMP dan SMA di Indonesia. Fisika merupakan bagian dari sains yang mempelajari fenomena dan gejala alam secara empiris, logis, sistematis dan rasional yang melibatkan proses dan sikap ilmiah. Ketika belajar fisika, siswa akan dikenalkan dengan materi, konsep, asas, teori, prinsip dan hukum-hukum fisika. Siswa juga akan diajarkan untuk melakukan eksperimen di dalam laboratorium atau di luar laboratorium sebagai salah satu upaya untuk memahami berbagai pokok bahasan dalam fisika. Hal yang juga dikembangkan selama berlangsungnya proses belajar mengajar fisika adalah sikap ilmiah seperti jujur, obyektif, kritis, dan sebagainya. (Irawati, 2011)
Selama ini, minat siswa dalam mengikuti pelajaran fisika di sekolah tidak seperti mengikuti pelajaran lainnya. Siswa berpendapat bahwa pelajaran fisika sulit karena mereka banyak menemukan persamaan matematik sehingga ia diidentikkan dengan angka dan rumus. Kebanyakan siswa merasa sulit memahami konsep dan prinsip fisika. Hal ini berdampak pada rendahnya minat siswa untuk belajar fisika. Masalah ini merupakan salah satu masalah klasik yang sering dijumpai oleh para guru fisika di sekolah.
Ketidaksukaan pada pelajaran fisika, dapat berdampak pula pada sikap siswa terhadap guru fisikanya. Tidak sedikit guru fisika yang kurang disukai oleh siswanya karena kegagalan siswa dalam belajar fisika. Nilai fisika yang buruk menempatkan guru sebagai penyebab kegagalan di mata siswa dan orang tua. Sikap siswa akan sangat berbeda pada guru kesenian atau olah raga misalnya, pelajaran yang menjadi favorit bagi kebanyakan siswa.
Motivasi belajar siswa  yang rendah menyebabkan mereka tidak optimal dalam belajar di kelas. Oleh karena itu, peran guru fisika sebagai motivator dalam belajar mengajar di kelas perlu dilakukan dan dioptimalkan. Materi fisika yang memerlukan analisis dan pemahaman, akan membutuhkan motivasi belajar yang kuat dan berkelanjutan. Faktor-faktor penyebab rendahnya motivasi dan berbagai cara yang dapat diterapkan di kelas untuk meningkatkan motivasi belajar siswa perlu dianalisa.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa. Pertama, metode mengajar guru yang monoton dan  tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi belajar siswa. Kedua, tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas (tidak disampaikan kepada siswa). Ketiga, tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa. Yang keempat adalah latar belakang ekonomi dan sosial budaya siswa. Kelima, kemajuan teknologi dan informasi. Keenam, siswa merasa kurang mampu terhadap mata pelajaran tertentu, seperti fisika. Dan yang terakhir yaitu masalah pribadi siswa baik dengan orang tua, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya. (Astuti, 2009)
Sebagai guru, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam pelajaran fisika. Guru harus menciptakan iklim belajar yang terbuka dan positif dengan menitikberatkan pada kebutuhan siswa saat ini. Membuat siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan mengaitkan pembelajaran fisika dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya bersama siswa menganalisis apa yang membuat kelas menjadi lebih atau kurang termotivasi. Dalam perencanaan pembelajaran, guru harus merancang tindakan pengajaran dan merumuskan RPP yang variatif (sesuai dengan pokok bahasan) agar dapat memotivasi siswa. Ketika pelaksanaan pembelajaran guru menginformasilkan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Memberikan penekanan pada pemahaman dan pembelajaran dibandingkan nilai. Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya. Kemudian memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa untuk menumbuhkan motivasi instrinsik. (Sutikno, 2010)
 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum motivasi instrinsik memiliki dampak lebih kuat daripada motivasi ekstrinsik. Guru perlu menggunakan berbagai cara dalam meningkatkan motivasi instrinsik siswa untuk belajar fisika melalui berbagai pendekatan yang sesuai pokok bahasan dengan memperhatikan perkembangan siswa. Beragamnya kepribadian siswa serta banyaknya materi yang perlu disampaikan pada pelajaran fisika mengharuskan guru untuk mencari berbagai metode, strategi dan pendekatan yang sesuai dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru yang profesional tidak hanya berfungsi sebagi penyampai materi pelajaran tetapi juga yang dapat menjadi motivator bagi siswa dalam proses belajar mengajar. Pemahaman terhadap berbagai pendekatan motivasi belajar dapat membantu guru dalam memotivasi siswa dan memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar di kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar